Selamat datang, lindungi harta benda anda dgn asuransi pilihan tanyakan dengan admin ? yang mau kirim artikel untuk ditayangkan diperkenan dan laporkan apabila ada link yang rusak atas kunjungan dan kerjasama anda diucapkan terima kasih

Sabtu, 30 Maret 2013

IURAN OJK: Berapa besaran yang ideal?



BESARAN IURAN Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi misteri sekaligus kekhawatiran bagi industri keuangan. Misteri karena OJK belum menyampaikan secara tegas berapa besaran iuran yang akan dibebankan kepada pelaku usaha.

Namun apabila nilainya terlalu besar, maka akan menjadi kekhawatiran bagi industri keuangan karena akan meningkatkan biaya operasional. Umumnya semua biaya operasional lembaga keuangan akan dibebankan kembali kepada nasabah atau konsumen dengan berbagai cara.

Karena apabila biaya tersebut ditanggung oleh perusahaan masing-masing, maka akan menggerus laba sehingga performa keuangan menjadi tidak optimal.

Meski demikian, sebenarnya  besaran iuran OJK tersebut bisa diprediksi berdasarkan beberapa pernyataan dari anggota Dewan Komisioner (DK). Muliaman D. Hadad, Ketua DK OJK,  telah menyatakan iuran tersebut diharapkan menutupi seluruh biaya operasional mulai 2014, sehingga tidak bergantung lagi APBN.

Berapa kebutuhan biaya operasional OJK? Untuk 2013, lembaga anyar ini membutuhkan dana Rp1,69 triliun. Pada tahun depan, baru Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) yang bergabung ke OJK.

Adapun untuk 2014, kebutuhan dana OJK diperkirakan akan meningkat dua kali lipat atau sekitar Rp3,4 triliun. Ini disebabkan karena pengaturan dan pengawasan perbankan Bank Indonesia akan mulai bergabung paling lambat akhir 2013 dan efektif bekerja pada awal tahun berikutnya.

Karena berkomitmen tidak akan meminta dana APBN mulai 2014, maka lembaga yang memiliki wewenang sebagai regulator, pengawas sekaligus eksekutor ini harus bisa meraup dana Rp3,4 triliun dari iuran lembaga keuangan.

Sebenarnya Firdaus Djaelani, anggota Komisioner OJK yang membawahi industri keuangan non bank sudah memberi bocoran bahwa pihaknya telah mengkalkulasi iuran sebesar 0,04%--0,05%. Bocoran tersebut disampaikan pada saat acara Indonesia Rendezvous yang digelar Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Nusa Dua Bali, 5 Oktober 2012 lalu.

Namun, seperti tidak mau membuat khawatir para pelaku usaha asuransi, dia menutupi dasar perhitungan iuran tersebut. "Iuran bisa dihitung dari aset, kewajiban ataupun modal," ujarnya.

Seorang sumber Bisnis di Bank Indonesia, mengatakan iuran tersebut paling mungkin dihitung dari besaran aset. Hal tersebut disebabkan karena nilai modal dan kewajiban lembaga keuangan jauh lebih sedikit sehingga tidak bisa menutupi kebutuhan operasional OJK apabila ditarik sekitar 0,04%-0,05%.

Bisnis membalik perhitungan iuran tersebut dengan rumus kebutuhan dana OJK dikali dengan besaran persentase yang disampaikan oleh Firdaus. Rumusnya adalah Rp3,4 triliun X 100/0,04 atau Rp3,4 triliun X 100/0,05 sehingga didapatkan hasil Rp6.800-Rp8.500 triliun.

Rasio keuangan apa yang mendekati nilai tersebut? Yang paling mendekati adalah aset. Saat ini aset lembaga keuangan sekitar Rp4.500 triliun dan pasar modal sekitar Rp2.200 triliun. Aset tersebut diprediksi akan meningkat pada  2014, atau ketika iuran tersebut diimplementasikan.

Ketika dikonfirmasi, Muliaman mengaku pihaknya sudah memiliki besaran iuran tersebut. Namun dia enggan untuk menjelaskan kepada wartawan sebelum menyampaikan secara resmi kepada DPR.

"Yang penting tidak memberatkan. Kalaupun ada beban, pada prinsipnya setuju dipahami. Mereka  minta agar tidak diberatkan, ya kami pertimbangkan," ujar Muliaman.

Dia mengatakan penghitungan iuran tersebut mirip dengan premi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dihitung dari dana yang dikelola. "Artinya biaya operasional untuk sumber daya pengawasan idealnya dikaitkan dengan apa," ujarnya.

(donald.banjarnahor@bisnis.co.id/edwina@bisnis.co.id) (faa)
Sumber : Donald Banjarnahor sumber : http://bisnis.com/iuran-ojk-berapa-besaran-yang-ideal

Tidak ada komentar:

Pengikut